Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh manajemen perusahaan adalah situasi krisis yang melanda perusahaan. Berbagai contoh krisis perusahaan adalah kasus penyedap makanan Ajinomoto yang diduga terbuat dari bahan berasalah dari babi. Sebelumnya pernah juga terjadi krisis yang melanda pabrik biskuit dari pabrik susu yang terkait dengan isu biskuit beracun dan isu pengunaan lemak babi.
Kedua
masalah tersebut telah berkembang menjadi isu nasional dan telah
melibatkan banyak pihak di dalam penanganannya. Implikasi dari kedua
masalah tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap perusahaan besar,
tetapi juga telah membuat perusahaan kecil dan pedagang kecil ikut
merasakan akibatnya. Sekian banyak pengangguran yang terjadi, dan sekian
banyak produk yang tidak laku dijual.
Disamping masalah yang sangat besar seperti contoh
di atas, tidak jarang perusahaan dilanda oleh masalah yang implikasinya
hanya terbatas pada ruang lingkup satu perusahaan saja. Beberapa contoh
krisis yang dihadapi perusahaan adalah :
1) masalah pencemaran lingkungan oleh pabrik.
2) masalah unjuk rasa oleh pekerja.
3) masalah produk yang tidak bisa dipasarkan.
4) masalah kericuhan dengan pemerintah dalam hal peraturan yang berkaitan dengan izin usaha.
Tentu saja masih banyak contoh lain dari krisis yang dihadapi perusahaan.
Melihat
contoh penanganan kasus lemak babi dan kasus biskuit beracun yang
demikian besar akibatnya terkesan bahwa kebanyakan perusahaan belum
mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang demikian.
Kurangnya
persiapan perusahaan di dalam menghadapi kasus krisis seperti yang
dikemukakan di atas, tidak hanya melanda perusahaan di Indonesia.
Perusahaan besar di Amerikapun banyak yang tidak mempunyai progran
manajemen krisis. Dari suatu survei tentang manajemen krisis yang
dilakukan di USA walaupun para manajer mengakui bahwa krisis besar dapat
melanda perusahaan mereka, namun hanya separuh perusahaan yang disurvei
yang mengatakan mereka mempunyai ‘program manajemen krisis’(crisis
management plan). Tampaknya banyak perusahaan yang mengabaikan masalah
krisis ini. Mereka baru kelabakan an menjadi panik bilamana krisis
betul-betul terjadi.
Makalah ini mencoba membahas secara sekilas masalah krisis yang mungkin melanda perusahaan. Makalah ini mencoba memberikan beberapa garis besar untuk memersiapkan ‘manajemen krisis’.
DEFINISI KRISIS.
Krisis adalah situasi yang merupakan titik balik (turning point) yang dapat membuat sesuatu tambah baik atau tambah buruk. Jika dipandang dari kaca mata bisnis suatu krisis akan menimbulkan hal-hal seperti berikut :
- Intensitas permasalahan akan bertambah.
- Masalah akan dibawah sorotan publik baik melalui media masa, atau informasi dari mulut ke mulut.
- Masalah akan menganggu kelancaran bisnis sehari-hari.
- Masalah menganggu nama baik perusahaan.
- Masalah dapat merusak sistim kerja dan menggoncangkan perusahaan secara keseluruhan.
- Masalah yang dihadapi disamping membuat perusahaan menjadi panik, juga tidak jarang membuat masyarakat menjadi panik.
- Masalah akan membuat pemerintah ikut melakukan intervensi.
LEVEL PERKEMBANGAN KRISIS.
Suatu krisis menurut pendapat Steven Fink (1986) dapat dikategorikan kedalam empat level perkembangan, yakni :
1). masa prekrisis (predromal crisis stage)
2). masa krisis akut (acute crisis stage)
3). masa krisis kronis (chronic crisis stage)
4). masa resolusi krisis (crisis resolution stage)
Masa pre-krisis
Masa pre-krisis
Suatu
krisis yang besar biasanya telah didahului oleh suatu pertanda bahwa
bakal ada krisis yang terjadi. Masa terjadinya atau munculnya pertanda
ini disebut masa pre-krisis.
Seringkali
tanda-tanda ini oleh karyawan yang bertugas sudah disampaikan kepada
pejabat yang berwenang, tetapi oleh pejabat yang berwenang tidak
ditanggapi. Oleh karena sipelapor merasa laporannya tidak ditanggapi dia
ikut diam saja. Bila keadaan yang lebih buruk terjadi dia lebih baik
memilih diam daripada laporan dia tidak ditanggapi.
Kasus
terjadinya kebocoran gas racun pabrik Union Carbide di Bhopal, India
(terkenal dengan nama tragedy Bhopal) yang merenggut lebih dari 2000
jiwa, telah diantisipasi oleh petugas. Kebocoran yang terjadi di pabrik
Union Carbide di tempat lain tidak diteruskan ke pabrik di Bhopal.
Laporan yang tidak disampaikan itu menyebabkan terjadinya malapetaka
tersebut.
Cukup
sering terjadi, malapetaka yang besar sudah deketahui gejalanya oleh
orang yang berwenang, tetapi didiamkan saja tanpa diambil tindakan.
Kalau sekiranya tindakan koreksi segera diambil maka kejadian yang
akibatnya fatal tersebut dapat dihindarkan. Mengatasi krisis yang paling
baik adalah disaat pre-krisis ini terjadi.
Seringkali
suatu krisis sudah diantisipasi bakal terjadi, namun tidak ada cara
untuk menghindarinya. Misalnya kasus kapal di laut yang akan dilanda
oleh topan, dan tidak ada jalan keluar kecuali menghadapi topan
tersebut. Namun oleh karena sudah diantisipasi terjadinya, sang nakhoda
akan lebih siap menghadapi krisis tersebut. Misalnya mengarahkan
kapalnya ke batu karang. Dari contoh ini kita dapat menarik pelajaran
bahwa menghadapi krisis yang tidak terelakkan bila kita sudah tahu, kita
akan lebih siap.
Masa Krisis Akut (Acute stage).
Bila
pre-krisis tidak dideteksi dan tidak diambil tindakan yang sesuai maka
masa yang paling ditakuti akan terjadi. Kasus biskuit beracun setelah
korban berjatuhan, misalnya cepat sekali mendapat sorotan media massa
sebagai suatu berita yang hangat dan masuk halaman pertama. Keadaan yang
demikian akan menimbulkan suasana yang paling kritis bagi perusahaan,
khususnya bagi perusahaan yang produknya tercemar racun. Informasi
tersebut berkembang dengan cepat dikalangan masyarakat dari mulut ke
mulut. Setelah itu berkembang masalah baru berupa ‘rumor’ bahwa banyak
makanan lain yang ikut tercemar.
Beberapa
bahan makanan yang dilaporkan tercemar racun adalah minyak goreng,
bakso, bakmi, rokok, dan beberapa jenis jajanan pasar. Memang isu
keracunan ini akan merembet ke makanan yang sejenis Hal ini disebut
dengan proses generalisasi. Fenomena generalisasi ini juga terjadi pada
pabrik yang mempunyai cabang di tempat lain, atau pabrik yang
memproduksi barang yang hampir sama.
Pada
masa krisis akut ini tugas utama perusahaan adalah menarik produk
secepat mungkin agar tidak ada lagi korban yang menjadi korban produk.
Pada masa ini tugas perusahaan bukanlah diprioritaskan untuk mencari
penyebab kenapa masalah itu terjadi. Tetapi tugas pokoknya adalah
mengontrol semaksimal mungkin agar jatuhnya korban dapat ditekan.
Masa
krisis akut ini jika dibandingkan dengan masa krisis kronis jauh lebih
singkat. Tetapi masa akut adalah masa yang paling menegangkan dan paling
melelahkan anggota tim yang menangani krisis.
Masa kronis krisis.
Masa
ini adalah masa pembersihan akibat dari krisis akut. Masa ini adalah
masa ‘recovery’, masa mengintrospeksi kenapa krisis sampai terjadi. Masa
ini bagi mereka yang gagal total menangani krisis adalah masa
kegoncangan manajemen atau masa kebangkrutan perusahaan. Bagi mereka
yang bisa menangani krisis dengan baik ini adalah masa yang menenangkan.
Masa
kronis berlangsung panjang, tergantung pada jenis krisis. Masa kronis
adalah masa pengembalian kepercayaan publik terhadap perusahaan.
Masa kesembuhan dari krisis.
Masa
ini adalah masa perusahaan sehat kembali seperti keadaan sediakala.
Pada fase ini perusahaan akan semakin sadar bahwa krisis dapat terjadi
sewaktu-waktu dan lebih mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
KIAT MENGHADAPI KRISIS.
Upaya menghadapi krisis tidak jauh berbeda dengan upaya seseorang menghadapi suatu penyakit ganas, yaitu upaya preventiv dan upaya kuratif.
Upaya preventif.
Upaya
yang paling baik dalam mengatasi terjadinya krisis adalah upaya yang
sifatnya preventif. Pada upaya preventif beberapa hal yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut :
Menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada perusahaan.
Bila
masyarakat memiliki kepercayaan terhadap suatu perusahaan yang
menghasilkan produk yang dikonsumsi oleh mereka, biasanya masyarakat
tidak mudah termakan isu yang disebarkan oleh orang tertentu yang ingin
merugikan perusahaan.
Bila
terjadi kasus nyata suatu produk menimbulkan korban akibat sabotase
dengan cara memasukkan racun atau barang berbahaya lainnya, adanya
kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan akan memudahkan manajemen
krisis. Hal seperti ini pernah terjadi pada perusahaan Johnson &
Johnson yang memproduksi obat pusing kepala merk ‘Tylenol’ di Amerika
Serikat. Adanya kepercayaan publik bahwa tidak mungkin korban jatuh
karena kelalaian pabrik dalam membuat obat telah menyelamatkan
perusahaan Johnson & Johnson dari krisis yang berkepanjangan.
Pembentukan
kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan dapat ditempuh dengan cara
membina hubungan baik dengan media-massa. Dengan adanya hubungan baik
ini media-massa akan memberikan informasi yang baik tentang perusahaan.
Selain itu adanya hubungan baik dengan media-massa akan menolong
bilamana suatu ketika terjadi krisis melanda perusahaan. Sorotan
media-massa terhadap krisis yang terjadi tidak terlalu diwarnai oleh
publikasi yang merugikan.
Kepercayaan
masyarakat terhadap perusahaan dipengaruhi pula oleh bagaimana ‘ímage’
perusahaan dimata masyarakat. Bila masyarakat melihat bahwa banyak
keuntungan yang diberikan perusahaan kepada masyarakat, misalnya
sumbangan untuk dana pemeliharaan kesehatan rakyat miskin, pembuatan
rumah jompo, yatim piatu, beasiswa dan hal lain yang bersifat sosial,
maka ‘image’ perusahaan dimata masyarakat akan baik. Selain itu membina
hubungan dengan tokoh masyarakat, pimpinan informal (bukan bagian
birokrasi pemerintahan) seperti pemuka agama, akan sangat membantu
pembentukan image yang baik. Image baik ini sangat memperkuat daya
perusahaan di dalam tahan menghadapi krisis. Masyarakat tidak mudah
termakan isu yang merugikan perusahaan.
Image
perusahaan yang baik dapat pula dibentuk dengan menciptakan ‘rule of
conduct’ bagi setiap karyawan perusahaan yang selalu ramah dan mudah
menolong dalam berhubungan dengan masyarakat. Tentu saja ‘rule of
conduct’ yang baik ini akan besar kemungkinannya untuk dilakukan para
karyawan bila perusahaan memberikan suasana kerja yang menyenangkan bagi
para karyawan.
Selain
itu upaya preventif dapat pula dilakukan dengan membina hubungan yang
baik dengan aparat pemerintah. Aparat pemerintah memegang posisi sentral
di dalam membantu mengatasi problem perusahaan. Larangan terhadap
produk atau himbauan agar masyarakat tidak mudah termakan isu biasanya
dilakukan oleh pemerintah. Khususnya bagi perusahaan di negara
berkembang adalah sangat penting untuk membina hubungan yang baik ini,
karena di negara berkembang peranan pemerintah dalam kegiatan kehidupan
masyarakat sangat dominan. Hampir semua aspek kehidupan sangat
dipengaruhi oleh pemerintah. Peranan aparat pemerintah di lini bawah,
seperti ketua RT, RW, RK, lurah, camat dan bupati sangat besar artinya
di dalam meredakan isu bila suatu ketika terjadi krisis yang melanda
produk perusahaan. Namun seringkali bagian pemasaran produk (salesman)
kurang memperhatikan arti penting pembinaan hubungan pribadi dengan para
tokoh masyarakat ini.
Satu
bagian penting dari benteng pertahanan di dalam menghadapi krisis
adalah lini terbawah mata rantai pemasaran. Bila produk yang dijual
adalah produk seperti rokok, roti, sabun, dan barang keperluan
sehari-hari, mata rantai terbawah ini adalah pengecer seperti toko,
warung dan dan pedagang asongan. Bila perusahaan dapat membina hubungan
baik dengan lini bawah ini, maka sangat besar kemungkinan mereka akan
ikut membantu mengurangi permasalahan akibat krisis. Sebagai contoh,
termakannya masyarakat oleh isu rokok yang mengandung racun, akan dapat
dinetralisir dengan cara sipenjual rokok mengisap rokok yang diduga beracun.
Cukup
sering terjadi bagian pemasaran suatu perusahaan tidak mempunyai
catatan yang lengkap dan rinci tentang kemana saja produk tersebut
dijual. Sebaiknya catatan lengkap yang berupa nama dan alamat
toko/warung yang menjual dicatat serinci mungkin. Tugas mencatat serinci
mungkin di lakukan oleh agen (distributor) yang ditunjuk. Catatan yang
rinci tentang pengecer barang ini akan sangat dibutuhkan bila ada
krisis. Dalam kasus produk tercemar racun, penarikan barang dari pasaran
akan dapat cepat dilakukan untuk menghindari bertambahnya korban.
Usaha
preventif yang lain adalah menyiapkan ‘program manajemen krisis’. Dalam
situasi normal perlu ada tim khusus yang dibentuk yang akan menangani
krisis bila suatu ketika krisis terjadi. Anggota tim krisis ini diambil
dari beberapa unsur, bidang produksi, pemasaran, public relation, dan
bagian lain yang kiranya terkait. Beberapa perusahaan maju di USA bahkan
memiliki ruang khusus yang dipersiapkan untuk Tim Manajemen Krisis. Di
dalam ruangan ini dipersiapkan segala informasi tentang apa yang harus
dilakukan bila suatu krisis terjadi, siapa orang/perusahaan/pejabat yang
harus dihubungi lengkap dengan nomor tilpon, alamat, dan tempat yang
paling mudah dihubungi. Tim yang seperti ini misalnya sudah dimiliki
oleh perusahaan penerbangan didalam menghadapi krisis, baik itu berupa
kecelakaan pesawat, pembajakan dll.
Di
saat tidak ada krisis terjadi, Tim ini biasanya melakukan permainan
simulasi menghadapi krisis. Permainan simulasi ini dibutuhkan untuk
untuk melatih kecepatan bertindak bila krisis betul-betul terjadi.
Permainan simulasi ini sering dilakukan oleh angkatan bersenjata di
beberapa negara. Di masa damai mereka bermain latihan perang-perangan
unrtuk melatih kemampuan menghadapi perang yang sebenarnya. Di Amerika
Serikat sering dilakukan latihan bahaya kebakaran di gedung bertingkat.
Maksudnya adalah untuk membiasakan para penghuni bertingkat untuk
menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran yang sesungguhnya.
Permainan
simulasi ini perlu dilakukan tidak hanya sekali. Hal ini dimaksudkan
agar kesiapan dan kesadaran bahwa krisis sewaktu-waktu dapat terjadi
selalu dalam pikiran pemegang keputusan di perusahaan.
Upaya Kuratif.
Pada
saat krisis melanda perusahaan ada beberapa langkah yang perlu
dilakukan di dalam penanganan krisis. Hal pertama adalah
mengidentifikasi krisis kemudian diikuti oleh mengisolasi krisis dan
yang terakhir adalah menangani krisis.
Mengidentifikasi Krisis.
Pengidentifikasian
krisis ini sangat penting dengan alasan sebagi berikut. Pertama, tanpa
adanya kejelasan faktor yang merupakan krisis maka akan sulit untuk
mengatasi krisis. Kedua dengan mengidentifikasi factor yang menjadi
aspek penting krisis, perusahaan dapat mengetahui apakah krisis tersebut
dapat ditangani atau tidak. Daripada membuang energi untuk menangani
krisis yang jelas bakal tanpa memberikan hasil, perusahaan dapat melihat
ke hal lain yang kiranya dapat mengurangi dampak krisis.
Harus
disadari bahwa di kala perusahaan terkena krisis, banyak problem lain
yang menyertainya yang merupakan krisis-krisis lainnya. Oleh karena itu
krisis yang utama tersebut harus didentifikasi.
Untuk
mengisolasi ‘krisis utama’ dari krisis lainnya langkah berikut dapat
dilakukan. Pertama masing-masing anggota Tim Krisis Manajemen menanyakan
kepada diri sendiri beberapa pertanyaan berikut ini. Selanjutnya
pertanyaan tersebut dinilai dengan menggunakan bantuan skala pengukur
‘Crisis Impact Values’ seperti contoh berikut.
1. Adakah kemungkinan krisis akan berkembang semakin serius bila tidak diambil tindakan apa-
apa?
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak berkembang Sangat berkembang
Berapa besar kemungkinan di atas terjadi ?
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sangat tidak mungkin Sangat mungkin
2. Apakah krisis akan menarik pihak luar (seperti media-massa, perubahan lain yang merupakan saingan, atau pemerintah) yang justru merugikan perusahaan ?
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak menarik pihak luar Sangat menarik pihak luar
Berapa besar kemungkinan diatas terjadi ?
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sangat tidak mungkin Sangat mungkin
3. Apakah krisis akan menganggu kegiatan perusahaan secara serius ?
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sangat tidak mengganggu Sangat mengganggu
Berapa besar kemungkinan diatas terjadi ?
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sangat tidak mungkin Sangat mungkin
4. Apakah keadaaan akan membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan ?
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sangat tidak kehilangan kepercayaan Sangat kehilangan kepercayaan
Berapa besar kemungkin diatas terjadi ?
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sangat tidak mungkin Sangat mungkin
5. Apakah keadaan akan merusak sendi-sendi perusahaan? (tidak hanya dalam artian keuangan, tetapi juga menurunnya semangat kerja karyawan).
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sangat tidak merusak Sangat merusak
Berapa besar kemungkinan diatas terjadi ?
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sangat tidak mungkin Sangat mungkin
Selanjutnya
skor untuk masing-masing pertanyaan harus dikalikan dengan skor
kemungkinan hal tersebut akan terjadi. Misalkan skor untuk pertanyaan
satu adalah 7 dan skor kemungkinan terjadi adalah 9, maka skor perkalian
untuk pertanyaan satu menjadi 7 x 9 = 63
Untuk
membuat kemampuan skala ‘Crisis Impact Value’ lebih baik tingkat
presisinya, perlu pula pembobotan terhadap tingkat keseriusan dampak
krisis.
Masing anggota Tim akan mempunyai skor total, yang merupakan jumlah perkalian skor pertanyaan, skor kemungkinan, dan skor bobot masing-masing pertanyaan. Tingkat keseriusan krisis adalah skor rata-rata dari skor total yang diberikan oleh beberapa anggota Tim.
Mengisolasi krisis.
Krisis
pada dasarnya sama dengan suatu penyakit menular. Bila seseorang
terserang penyakit menular, dia harus diisolir dari orang-orang lainnya.
Agar krisis tidak terlalu menganggu jalannya perusahaan, maka krisis
harus ditangani oleh orang lain. Bila yang menangani krisis adalah
seseorang yag sangat sibuk dan memegang jabatan vital di perusahaannya,
maka kesibukannya menangani krisis akan mengganggu fungsi utamanya
menjalankan perusahaan. Jika pemegang jabatan vital harus menangani
krisis maka tugasnya harus dialihtugaskan kepada orang lain.
Menangani
krisis menuntut waktu, tenaga, dan pikiran yang amat besar. Krisis
walaupun melanda perusahaan, tetapi individu di dalam perusahaan lah
yang menghadapinya. Bagaimanapun menghadapi krisis perlu adanya
persiapan mental dan fisik. Di saat krisis berada dalam masa akut,
seringkali anggota tim harus bekerja keras, kurang tidur, dan dilanda
stress yang amat sangat. Keadaan lelah, kurang tidur dan stress yang
tinggi ini akan menyebabkan keputusan yang diambil dalam menangani
krisis menjadi kurang didasari oleh logika yang tepat. Oleh karena itu
sangat disarankan agar anggota Tim krisis dipilih orang-orang yang kuat menghadapi
stress dan semua kelelahan ini. Bila anggota Tim tidak kuat dengan
‘pressure’ situasi yang begitu besar, baik dari media-massa maupun pihak
lain, sebaiknya dia diganti dengan anggota yang lebih kuat. Selain itu
anggota Tim perlu menyisihkan waktu untuk rileks guna menurunkan
kelelahan dan stress. Bila seseorang harus menangani krisis disamping
menjalankan fungsi vitalnya menjalankan perusahaan, sangat besar
kemungkinan semuanya akan menjadi kacau. Krisis tidak terpecahkan dan
jalan perusahaan menjadi kacau. Agar keadaan seperti ini tidak terjadi,
beberapa perusahaan yang terkena krisis di Amerika (misalnya Johnson
& Johnson yang memproduksi Tylenol obat pusing kepala) hanya
menugaskan sejumlah kecil staf perusahaan untuk menjadi angota Tim yang
menangani krisis. Sedangkan sejumlah besar staf lainnya
melaksanakan kegiatan perusahaan sehari-hari. Tim ini selalu
mengkomunikasikan kepada staf lainnya apa-apa yang terjadi di dalam
penanganan krisis.
Perusahaan Procter & Gamble di USA diwaktu
menangani kasus produk pembalut wanita yang menimbulkan penyakit
menugaskan Tim khusus untuk menangani krisis. Anggota Tim ini
dibebas-tugaskan dari pekerjaannya sehari-hari. Selain itu untuk
mengatasi kemungkinan seperti ini, banyak perusahaan di Amerika Serikat
menggunakan jasa konsultasi ‘manajemen krisis’.
Menangani krisis
Bila
Tim manajemen krisis sudah dibentuk dan sudah berhasil
mengidentifikasikan krisis, maka langkah selanjutnya adalah melakukan
analisis untuk menentukan tindakan apa yang harus diambil.
Untuk
membuat keputusan yang tepat diperlukan informasi yang lengkap dan
teknik pengambilan keputusan yang baik, serta sikap mental yang
mendukung. Oleh karena itu sangat diperlukan pengetahuan yang memadai
dalam hal teknik pengambilan keputusan. Pengalaman yang diperoleh
melalui training ‘pengambilan keputusan’ akan sangat bermanfaat di dalam
menghadapi krisis.
Begitu
cepatnay perubahan terjadi di masa krisis, pengambilan keputusan pun
berada dalam suasana yang mudah pula berubah. Di masa krisis memang
keputusan yang dibuat harus fleksibel sehingga dapat mengakomodasi
keadaan. Perlu diingat bahwa menangani krisis adalah menangani keputusan
dengan cara yang baik.
Di
masa krisis, sering terjadi perusahaan mendapat sorotan negatif dari
media masa. Ketertutupan akan media masa akan membuat perusahaan semakin
menjadi sorotan. Upaya menghindari media masa akan menimbulkan kesan
bahwa perusahaan menyembunyikan sesuatu. Hal ini akan merugikan ‘image’
perusahaan di mata masyarakat. Oleh karena itu diperlukan adanya
keterbukaan dan kejujuran tim krisis di dalam memberikan informasi
tentang hal-hal yang terjadi .
Agar
pemberian informasi kepada media masa menguntungkan pihak perusahaan,
sangat dianjurkan untuk menunjuk seorang juru bicara yang bisa tenang
menghadapi pertanyaan dari pihak wartawan. Selain itu apa-apa yang perlu
dikomunikasikan perlu dibicarakan lebih dahulu agar tidak menimbulkan
kerugian. Keterlibatan pakar komunikasi, psikolog, dan ahli di bidang
‘public relations’ sangat disarankan dalam penyusunan informasi yang
akan disampaikan kepada media masa.
Referensi:http://ancok.staff.ugm.ac.id/h-12/kiat-menghadapi-krisis-dalam-perusahaan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar